kepiting cangkang lunak

MAKALAH
APLIKASI BIOTEKNOLOGI DIBIDANG PERIKANAN



KEPITING CANGKANG LUNAK
(soft shell crab)


DISUSUN OLEH:
LIANA L. TAUFIQ (H311 07 039)










JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2010
PENDAHULUAN

Dua per tiga wilayah Indonesia merupakan wilayah laut yang memiliki kekayaan sumberdaya alam yang melimpah baik dari sumberdaya hayati yang mampu diperbaharui, maupun sumberdaya nonhayati, energi kelautan dan jasa-jasa kelautan yang sampai sekarang belum secara optimal dimanfaatkan. Menyadari sepenuhnya akan keberadaan sumberdaya alam tersebut, melalui kesadaran politik, bangsa Indonesia telah mengimplementasikan keinginan untuk memanfaatkan sumberdaya kelautan dan perikanan tersebut dengan berdirinya Departemen Kelautan dan Perikanan pada tahun 1999 di mana bidang perikanan diharapkan menjadi tulang punggung penggerak pembangunan kelautan Indonesia dalam upaya menjadikan laut sebagai pusat pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Bidang perikanan sebagai aktivitas pemanfaatan sumberdaya hayati perairan yang meliputi usaha penangkapan, pemeliharaan (budidaya) dan pengolahan hasil sumberdaya hayati perairan, sampai saat ini masih mengandalkan sepenuhnya terhadap tersedianya bahan baku dari alam dalam kegiatan pemanfaatannya melalui kegiatan penangkapan ikan, sementara bidang budidaya perairan (mariculture) belum menampakkan kekuatannya dalam memanfaatkan teknologi khususnya dalam bidang pemuliaan, breeding, reproduksi, pakan dan penyaki. Melalui pendekatan Bioteknologi Molekuler diharapkan pemanfaatan sumberdaya hayati perairan yang tersedia akan dapat dimanfaatkan secara optimal.
Memanfaatkan laut sebagai sumber aktivitas ekonomi bukanlah suatu hal yang tidak memungkinkan. Laut memiliki nilai kompetisi yang sangat tinggi, khususnya dalam pemanfaatannya karena paling tidak, memanfaatkan laut tidak berbenturan dengan kepentingan yang paling mendasar dari kebutuhan manusia yaitu pemukiman. Dengan demikian sumberdaya yang ada yang meliputi sumberdaya hayati yang dapat diperbaharui (produk perikanan), nonhayati (minyak bumi dan gas, mineral), energi kelautan (energi gelombang pasang surut, angin, ocean thermal energy conversion (OTEC)) serta jasa-jasa kelautan dapat dimanfaatkan secara optimal. Indonesia yang memiliki panjang pantai 81.000 km; 17.508 pulau; 5,8 juta km2 wilayah laut/perairan yang dihuni oleh kekayaan biota perairan berupa lebih dari 2.000 jenis ikan; 850 jenis sponge, 910 jenis koral dan 4.500 jenis ikan karang atau 20% jenis ikan dunia (Subiyanto dan Djohani, 2000) merupakan wilayah pusat kekayaan biodiversitas dunia. Namun demikian, kondisi riel dari perjalanan sosial-budaya bangsa Indonesia yang selama ini terlalu mengarah ke wilayah darat, membawa dampak terhadap perilaku bangsa ini yang cenderung memandang pesimis dalam memandang laut sebagai sumber kekuatan pertumbuhan ekonomi baru Indonesia.
Menyusutnya ketersediaan lahan untuk aktivitas produksi karena semakin meningkatnya jumlah penduduk dan ketersediaan pangan merupakan permasalahan yang harus dipecahkan. Kehadiran bioteknologi merupakan suatu sumber kekuatan baru dalam menyelesaikan masalah tersebut apalagi dengan semakin berkembangnya Bio-molekuler sebagai salah satu cabang dari ilmu biologi yang terus mendasari dan memacu temuan-temuan berharga dalam menyelesaikan permasalahan khususnya di lingkup bidang hayati. Pekerjaan bioteknologi memang lebih banyak melibatkan aktivitas kimiawi dan secara tradisional telah banyak dihasilkan berbagai bahan komersial karena kegiatan atau jasa aktivitas mikroorganisme. Karena itu berkembangnya bioteknologi pertama kali lahir telah banyak memberikan inspirasi dan kontribusi terhadap perkembangan mikrobiologi terapan khususnya pada bidang fermentasi.
Penemuan-penemuan di bidang ilmu genetika molekuler yang menakjubkan, perkembangan di bidang peralatan canggih untuk mempelajari sistem kehidupan dan produk-produknya, yang digolongkan sebagai teknologi molekuler, telah membawa kemajuan yang sangat cepat di bidang biologi.
Teknologi ini mempunyai potensi untuk mengubah pengetahuan dasar kita tentang biologi biota laut, seperti pemahaman tentang mekanisme molekul yang mengatur pertumbuhan, perbiakan, perkembangan, penyesuaian lingkungan, penyimpanan dan pemindahan informasi, reaksi daya tahan, dan pembentukan dan degradasi metabolit.
Masih sangat terbatas kajian biologi yang mempelajari kehidupan Rajungan (Portunus pelagicus), apalagi kajian khusus fisiologi hormonal. Sementara, informasi ini sangat dibutuhkan dalam rangka pengembangan teknologi inovatif dalam bidang perikanan. Pengembangan teknologi perikanan ke depan diorientasikan pada pendekatan fisiologis dengan mempelajari kehidupan organisme pada habitat aslinya. Dengan menggunakan pendekatan ini, domestifikasi dapat dilakukan dengan baik dan bijak bagi organisme kultivan. Seperti halnya pola pelepasan ekdisteroid diketahui sangat dinamis tergantung pada fase molting di habitat aslinya (Tahya, A.M., 2010).
Rajungan menjadi salah satu komoditas penting yang prospektif dalam dunia perikanan di Indonesia karena tersebar di daerah pesisir kepulauan nusantara. Belakangan ini banyak komoditi yang mulai dilirik untuk dikembangkan melalui kegiatan penelitian yang inovatif, sebut saja teknologi kepiting lunak yang mulai digemari. Kajian mengenai pola pelepasan ekdisteroid sangat erat kaitannya dengan dinamika hormonal setiap fase pergantian kulit atau lazim disebut molting. Ekdisteroid ini dikenal sebagai hormon molting pada krustase. Kajian hormonal ini sangat dibutuhkan untuk menunjang pengembangan teknologi rajungan lunak (Tahya, A.M., 2010).


















BIOTEKNOLOGI LAUT

Bioteknologi perikanan (aquatic biotechnology) diartikan sebagai penggunaan organisme (biota) perairan atau bagian dari organisme perairan, seperti sel dan enzim, untuk membuat atau memodifikasi produk, untuk memperbaiki kualitas fauna (hewan) dan flora (tumbuhan), atau untuk mengembangkan organisme guna aplikasi tertentu, termasuk remediasi (perbaikan) lingkungan akibat pencemaran dan kerusakan lainnya.
Bioteknologi perairan juga mencakup ekstraksi (pengambilan) bahan-bahan alamiah (natural products atau bioactive substances) dari organisme perairan untuk bahan dasar industri makanan dan minuman, farmasi, kosmetika, dan lainnya (fullnews.com). Dengan demikian, aplikasi industri bioteknologi perairan secara garis besar mencakup:
(1) ekstraksi bahan-bahan alamiah untuk berbagai jenis industri,
(2) perikanan budidaya (aquaculture), dan
(3) bioremediasi lingkungan.
Tingkat pengetahuan bioteknologi sangat beragam, mulai dari yang sederhana, seperti membuat ragi, kecap dan bir sampai yang canggih seperti rekayasa genetik untuk menghasilkan hewan laut transgenik,yaitu hewan laut yang sifat genetiknya dimodifikasi.
Bioteknologi perikanan adalah bioteknologi yang ditekankan khusus pada bidang perikanan. Penerapan bioteknologi dalam bidang perikanan sangat luas, mulai dari rekayasa media budidaya, ikan, hingga pascapanen hasil perikanan. Pemanfaatan mikroba telah terbukti mampu mempertahankan kualitas media budidaya sehingga aman untuk digunakan sebagai media budidaya ikan.
Bioteknologi telah menciptakan ikan berkarakter genetis khas yang dihasilkan melalui rekayasa gen. Melalui rekayasa gen, dapat diciptakan ikan yang tumbuh cepat, warnanya menarik, dagingnya tebal, tahan penyakit dan sebagainya.
Pada tahap pascapanen hasil perikanan, bioteknologi mampu mengubah ikan melalui proses transformasi biologi hingga dihasilkan produk yang bermanfaat bagi kelangsungan hidup manusia. Sudah sejak abad 11, manusia sebetulnya menggunakan prinsip dasar ini. Pembuatan pangan seperti peda, kecap ikan, terasi ikan merupakan hasil bioteknologi.
Ketahanan pangan merupakan isu global yang sekarang sedang ramai dibicarakan. Alasannya jelas, pada tahun 2033 populasi manusia di dunia akan mencapai sektar 12 miliar jiwa. Sebagian besar penduduk tersebut adal di benua Asia. Berdasarkan hal tersebut, diperkirakan pada tahun 2010 kebutuhan pangan penduduk Asia akan melampaui persediaan yang ada. Kondisi ini membuat Negara Indonesia harus bekerjakeras memenuhi kebutuhan pangannya, sehingga peristiwa kelangkaan pangan di atas tidak perlu dialami. Langkah pemerintah untuk mewujudkan ketahanan pangan sudah mulai terlihat, salah satu komitmennya adalah meningkatkan produksi ikan menjadi tiga kali lipat dari periode sebelumnya.
Biota laut telah menghasilkan produk alam dari metabolit primer dan metabolik skunder. Metaboit primer adalah bahan yang dihasilkan dari proses metabolisme dasar untuk pertumbuhan dan perkembangan biota. Metabolit skunder diturunkan secara biosintetik dari metabolit primer dan umumnya berfungsi untuk mempertahankan diri terhadap keadaan lingkungan yang tidak menyenangkan, terhadap perusakan, dan serangan dar luar. Banyak jenis alga laut dan avertebrata laut menghasilkan bahan bioaktif yang dimanfaatkan untuk obat-obatan, seperti obat anti jamur, anti virus, pestisida.
Diantara biota laut, spons merupakan sumber bahan bioaktif yang utama. Hewan ini merupakan sumber metabolit sekunder terkaya. Sedikitnya 1500 – 2000 senyawa berbeda telah diisolasi dari spons laut. Bahan bioaktif dari sepon ini tidak saja dimanfaatkan untuk kedokteran, tetapi juga untuk pertanian berupa insektisida. Meski begitu, bukan hanya spons yang merupakan sumber bahan bioaktif. Hewan laut lain yang mempunyai sistem pertahanan dengan mengeluarkan bisa atau racun dapat menjadi sumber potensial produk alam laut, seperti berbagai jenis ubur-ubur yang berbisa, ikan buntal, keong conus.
Tumbuh-tumbuhan laut pun dapat dimanfaatkan bahan bioaktifnya. Terutama makro dan mikro alga, beberapa jenis rumput laut yang menghasilkan berbagai macam polisakarida, seperti agar, karagenan dan alginat. Mikro alga laut dan payau pun melimpah, dapat dimanfaatkan jadi pigmen alam, bahan-bahan farmasi, makanan sehat asam lemak tak jenuh dan polisakarida. Banyak juga bahan bioaktif berupa antibiotik yang dihasilkan mikroorganisme laut.







KEPITING CANGKANG LUNAK (soft shell crab)

Kepiting sangat mudah kita jumpai di pasar tradisional atau supermarket. Kepiting juga disajikan sebagai seafood dalam beragam jenis masakan baik di warung-warung tenda di tepi jalan maupun di restoran kelas atas. Kepiting diolah menjadi berbagai masakan lezat seperti kepiting asam manis, kepiting bumbu lada hitam, kepiting gulai, asparagus kepiting bahkan omelet kepiting atau sekedar dimasak kepiting rebus saja. Daging kepiting tidak hanya diminati karena rasanya yang lezat tetapi juga menyehatkan mengandung beragam nutrisi penting.
Bukan hanya dagingnya yang mempunyai nilai komersil, cangkangnya pun pun memiliki nilai lebih. Kulit kepiting diekspor dalam bentuk kering sebagai sumber chitin, chitosan dan karotenoid yang dimanfaatkan oleh berbagai industri sebagai bahan baku obat, kosmetik, pangan, dan lain-lain. Bahan-bahan tersebut memegang peran sebagai antiviral dan anti bakteri. Selain itu, dapat juga digunakan sebagai bahan pengawet makanan yang murah dan aman.
Kandungan nutrisi kepiting,yaitu (Anonim, 2010) :
• Kaya akan protein
Kandungan protein kepiting kurang lebih sekitar 22 gr/100 gr. Kandungan asam aminonya juga berprofil lengkap. Asam amino yang jumlahnya paling tinggi tiap 100 gramnya adalah glutamate 3474 mg, aspartat 2464 mg, arginin 1946 mg, lysine 1939 mg dan leusin 1768 mg.
• Kaya asam lemak omega-3
Seperti halnya hasil hewani laut lainnya, kepiting juga kaya asam lemak omega-3 yaitu sebesar 407 mg /100 gr.
• Tinggi kandungan vitamin B12
Kepiting juga mengandung vitamin B12 yang tinggi yaitu sekitar 10,4 mcg/100 mg. Kandungan ini sudah mampu mencukupi kebutuhan harian vitamin B12 sebesar 174%. Selain itu kepiting juga mengandung niacin dan riboflavin dalam jumlah yang cukup baik untuk kesehatan.
• Kaya mineral zinc, copper dan selenium
Sebagai hasil laut, kepiting juga kaya kandungan mineral. Kandungan mineral yang tertinggi untuk 100 gr kepiting adalah selenium 48 mcg (68% kebutuhan harian), copper 0,7 mg (37% kebutuhan harian) dan zinc 5,5 mg (36% kebutuhan harian).
Manfaat kandungan nutrisi kepiting (Anonim, 2010), yaitu:
* Kandungan protein yang tinggi berfungsi vital bagi tubuh sebagai pembentuk enzim, pembentukan sel organ dan otot, pembentuk hormon, perbaikan sel yang rusak, pengatur metabolisme, dan pembentuk sistem kekebalan tubuh
* Kandungan vitamin B12 sangat baik untuk menghasilkan energi dan pertumbuhan, meningkatkan metabolisme asam amino dan asam lemak, produksi sel darah merah, serta meningkatkan kesehatan syaraf dan kulit
* Asam lemak omega-3 dalam kepiting berfungsi menurunkan kadar kolesterol jahat dalam darah sehingga mencegah penyakit kardiovaskular (jantung), meningkatkan kekebalan tubuh, meningkatkan fungsi sistem syaraf dan kesehatan mata, dan meningkatkan kecerdasan otak bila diberikan sejak dini.
* Mineral selenium berperan sebagai antioksidan untuk mencegah kerusakan sel dari radikal bebas penyebab kanker dan penyakit jantung. Selenium diyakini berperan dalam mencegah kanker dan pengrusakan kromosom, juga meningkatkan daya tahan tubuh terhadap infeksi virus dan bakteri serta mencegah peradangan.
* Mineral copper berfungsi sebagai komponen enzim redox, pembentukan selda rah merah, otot, syaraf, tulang dan otak, serta mencegah penyakit tulang dan syaraf.
* Mineral zinc berfungsi untuk komponen pembentuk enzim-enzim tubuh, sel darah merah, sistem kekebalan tubuh, mencegah pembesaran prostat, mencegah kerontokan rambut.
* Kerang sangat cocok untuk menu diet yang tinggi protein karena mengandung lemak jenuh yang sangat rendah hanya 0,2 gram/ 100gram.
Kepiting cangkang lunak atau soft shell crab adalah salah satu makanan laut (seafood) di dunia yang terkenal karena kelezatannya. Produk ini belum dikenal luas oleh masyarakat Indonesia meskipun banyak diproduksi di Indonesia. Hal ini terjadi karena kepiting lunak adalah produk ekspor yang mana permintaan luar negeri jauh lebih tinggi dibanding produksi. Komoditas ini diekspor ke Amerika, Tiongkok, Jepang, Hongkong, Korea Selatan, Taiwan, Malaysia, dan sejumlah negara di kawasan Eropa.

Gambar kepiting cangkang lunak
Metode budidaya kepiting soka sebenarnya relatif sederhana. Pertama, membeli bahan baku kepiting bakau berukuran 10-12 (10-12 ekor per kg), kemudian diadaptasi selama sehari dalam kolam/tambak. Produksi kepiting lunak dilakukan dengan memelihara kepiting secara individu dalam kotak (keranjang buah) yang ditempatkan di dalam tambak hingga molting. Molting adalah proses pergantian kulit secara alami, yakni melepaskan kulit lama yang keras untuk tujuan pertumbuhan. Sesaat setelah molting, kulit kepiting yang baru masih dalam kondisi sangat lunak dan akan mengeras kembali beberapa jam kemudian ketika terjadi penyerapan air. Kepiting dengan kondisi lunak inilah yang dipanen sebagai kepiting lunak. Waktu yang dibutuhkan untuk memproduksi kepiting lunak berkisar antara satu minggu hingga empat bulan, tergantung ukuran kepiting. Selama pemeliharaan tersebut petani akan memonitor kepitingnya setiap 2-3 jam sekali selama 24 jam. Bila kepiting molting dan tidak diangkat dari air maka dua jam kemudian kepiting sudah akan mengeras kembali. Akibatnya, nilai jual kepiting tersebut menurun. Periode pemeliharaan yang lama dan waktu molting yang tidak bersamaan merupakan masalah utama dalam produksi kepiting lunak. Molting dapat terjadi pada pagi, siang, sore, atau malam hari (Anonim a, 2009).
Periode pemeliharaan yang lama menyebabkan biaya pakan dan biaya operasional lainnya menjadi besar. Sedangkan molting yang tidak bersamaan menyebabkan pengawasan harus dilakukan sangat ketat sehingga tenaga kerja yang dibutuhkan cukup banyak dengan waktu kerja yang panjang. Untuk mengatasi masalah tersebut, beberapa petani melakukan mutilasi atau menanggalkan kaki-kaki kepiting. Tujuannya agar proses regenerasi anggota gerak yang hilang akan dipercepat secara alami melalui molting, selain itu dimaksudkan juga untuk membuat kepiting stres. Sebab, stres bisa mempercepat proses molting. Teknik ini mampu mempercepat kepiting molting. Namun, masalah lain muncul, yakni kematian meningkat dan pertambahan berat setelah molting tidak terjadi, bahkan seringkali minus. Bila kepiting molting tanpa perlakuan mutilasi atau secara alami maka terjadi pertambahan berat sebesar kurang lebih 30 persen. Berdasarkan kendala tersebut maka dilakukanlah serangkaian penelitian meliputi penelusuran pustaka dan percobaan-percobaan Hasilnya diketahui bahwa secara fisiologis, proses pergantian kulit dikontrol oleh hormon molting. Begitu temuan Dosen Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Unhas, Prof Dr Ir Yushinta Fujaya, MSi dalam penelitiannya baru-baru ini. Dalam penelitian bersama sejumlah rekannya sesama dosen dan beberapa mahasiswa, diketahui bahwa hormon molting ini meningkat drastis menjelang molting. Dengan demikian diduga bahwa penambahan hormon molting eksogen dapat meningkatkan kadar hormon molting dalam darah sehingga molting akan terinduksi (Anonim a, 2009).









BAYAM MELUNAKKAN CANGKANG KEPITING

Bayam (Amaranthus sp.) merupakan tumbuhan yang biasa ditanam untuk dikonsumsi daunnya sebagai sayuran hijau. Tumbuhan ini berasal dari Amerika tropik namun sekarang tersebar ke seluruh dunia. Tumbuhan ini dikenal sebagai sayuran sumber zat besi yang penting (Anonim b, 2010).
Bayam relatif tahan terhadap pencahayaan langsung karena merupakan tumbuhan C4. Batang berair dan kurang berkayu. Daun bertangkai, berbentuk bulat telur, lemas, berwarna hijau, merah, atau hijau keputihan. Bunga tersusun majemuk tipe tukal yang rapat, bagian bawah duduk di ketiak, bagian atas berkumpul menjadi karangan bunga di ujung tangkai dan ketiak percabangan. Bijinya berwarna hitam, kecil dan keras (Anonim b, 2009).
Ditemukan bahwa bayam mengandung hormon molting yang secara alami digunakan untuk mempertahankan diri dari serangan hama insekta dan nematoda. Tanaman bayam dipilih untuk dijadikan sumber hormon molting eksogen untuk mempercepat molting pada kepiting budidaya dengan beberapa pertimbangan antara lain: di Indonesia banyak jenis bayam digunakan sebagai sayuran. Karena digunakan sebagai sayuran maka tanaman ini mudah diperoleh dan kesinambungan suplainya terjamin sehingga berpotensi menjadi produk industri. Lebih dari itu, karena bayam adalah sayuran yang menyehatkan maka metabolit yang dikandungnya aman bagi manusia sebagai konsumen (Anonim b, 2009).
Mula-mula diteliti kandungan senyawa aktif dalam daun bayam Amaranthus tricolor. Di dalamnya ditemukan ekdisteroid, hormon yang menyebabkan kulit cangkang kepiting menjadi lunak pada kepiting bakau yang hendak moulting alias berganti kulit. Secara periodik anggota keluarga Crustaceae itu moulting untuk tumbuh menjadi besar. Keluarga Crustaceae memiliki ekdisteroid yang diproduksi menjelang mereka berganti kulit atau bertelur (Muskar, 2009).
Sayang, hormon ekdisteroid di tubuh kepiting jumlahnya sedikit, 500 nanogram per kg bobot tubuh. Sebab itu sebuah proses moulting memakan waktu lama hingga 30 hari. Andai hormon ekdisteroid cukup banyak, proses ganti kulit itu bakal lebih cepat. Oleh karena itu digunakan ekstrak bayam. Agar ekstrak bayam itu mengeluarkan ekdisteroid maka difraksinasi. Proses pemisahan senyawa itu diulang sampai 4 kali. Proses itu tuntas setelah senyawa aktif itu dipurifikasi alias dimurnikan supaya bebas zat pengotor. Dari 1 kg bayam diperoleh 250 mg ekdisteroid (Muskar, 2009).
Ekdisteroid yang merupakan hormon molting pada krustase, menjadi salah satu kunci dalam mengungkap proses fisiologi molting pada rajungan. Ekdisteroid memiliki dinamika pelepasan yang teregulasi pada setiap fase molting.
Kepiting-kepiting itu kemudian disuntik ekstrak bayam. Yang diinjeksi adalah ruas-ruas di pangkal kaki dengan selaput lunak. Dosis injeksi 1/10 mg per kg bobot tubuh. Dari pangkal kaki itu ekdisteroid ekstrak bayam beredar ke seluruh jaringan tubuh melalui pembuluh darah. Hasilnya, di hari ke-4 kepiting siap moulting. Menginjak hari ke-16 sekitar 70% kepiting moulting sempurna. Uji di habitat asli memakai jumlah kepiting sama memberi hasil lebih baik. Sukses ganti kulit mencapai 80% (Muskar, 2009).
Selanjutnya, dari hasil penelitian yang seksama ditemukan bahwa aplikasi ekstrak bayam dengan dosis dan jadwal pemberian,yang tepat mempunyai khasiat untuk menginduksi molting pada kepiting peliharaan. Aplikasi dapat diberikan melalui injeksi dan melalui pakan dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dengan injeksi maka seluruh bahan aktif ekstrak bayam akan langsung masuk ke dalam darah dan segera mempengaruhi aktivitas molting. Namun memerlukan keterampilan dan peralatan khusus untuk aplikasinya. Sedangkan aplikasi melalui pakan mudah dilakukan karena sama saja dengan pemberian pakan pada umumnya, namun konsentrasi ekstrak yang dibutuhkan dua kali lebih banyak untuk mengantisipasi pakan yang tidak termakan dan yang mungkin larut dalam air karena pakan tidak segera dimakan. Komposisi nutrisi pakan buatan yang lengkap dan seimbang juga menentukan kinerja ekstrak bayam dalam menstimulasi molting. Ekstrak bayam ini telah diujicobakan pada industri budidaya kepiting cangkang lunak komersil di Kalimantan Selatan (Anonim a, 2009).
Selain bayam, keluarga paku-pakuan juga potensial dijadikan sumber hormon ekdisteroid. Sayang, paku-pakuan lebih sulit didapat karena mayoritas berada di daerah dataran tinggi (Muskar, 2009).
Keberhasilan penelitian ini sesungguhnya menjadi kabar baik bagi peternak, kalangan industri kepiting, bahkan penikmat kuliner laut. Bagi peternak kepiting soka - kulit lunak - bisa dibuat sendiri, tanpa bergantung dari tangkapan alam. Maklum kepiting soka favorit karena harganya 2 kali lipat kepiting biasa yang di Makassar mencapai Rp150.000 per kg (Muskar, 2009).
Industri kepiting untuk ekspor yang selama ini selalu kerepotan memisahkan daging dan kulit pun diuntungkan. Mutilasi dilakukan dengan memotong pangkal kaki kepiting, malah membuat bobot kepiting stagnan. Bobot kepiting yang dibesarkan selama sebulan rata-rata 130 g. Dengan mutilasi tidak terjadi kenaikan bobot, hanya 100 g (Muskar, 2009).






















DAFTAR PUSTAKA

Anonim a, 2009, Bayam Melunakkan Cangkang Kepiting (online),
Anonim, 2010, Kepiting, Makanan yang Sehat dan Lezat (online), www. showthread.php.com, diakses tanggal 22 Maret 2010, pukul 13.21 WITA.

Anonim b, 2009, Bayam (online), http://id.wikipedia.org/wiki/Bayam, diakses tanggal 24 April 2010, pukul 14.13 WITA.

Muskar, Y.F., 2009, Kepiting Lunak Berkat Bayam (online), www. kepiting-lunak-berkat-bayam.html, diakses tanggal 24 April 2010, pukul 14.20 WITA.

Tahya,A.M., 2010, Langkah Maju bagi Portunus Lunak (online), www. akbarmarzukitahya-smart.htm, diakses tanggal 24 April 2010, pukul 15.27 WITA.
Category: 4 komentar

4 komentar:

Anonim mengatakan...

Nice Artikel... Good Job

Akire Chan mengatakan...

Assalamu Alaikum...
Searching-searching tentang bioteknologi molekular, eh... dapat blog-nya si mbak. sy copas yah... Hehehe :-)

Unknown mengatakan...

Artikel yg sngt bgus,,,,bgmn cara mendapatkan ekstrak bayam jika menggunakan sistem injeksi???

Anonim mengatakan...

kepiting cangkang lunak sangat mudah diolah menjadi menu masakan apapun, bumbu bisa meresap ke dalam dan membuat rasanya akan semakin uenak dan gurih, mantap

Posting Komentar